Mengapa tak katakan kau tlah berdua
Mengapa berdusta tuk raih cintaku
Mestinya kau jujur padaku
Tulus padaku,
Mungkin ku tak membalas…
Q tak mau berbagi cinta dengannya
Karena ku tak ingin ada yang terluka
Biarlah yang lalu menjadi sebuah rahasia indah kita berdua……
Kata-kata dalam syair itu meluluhlantakkan jiwaku. Menusuk batin yang selama ini selalu diam tersakiti. Batin yang hanya mampu menahan perih demi mencintai seseorang yang telah dicintai yang lain. Mengagumi seseorang yang nyatanya telah berstatus dengan yang lain. Mengahncurkan diriku sendiri dengan kebodohan yang bertubi-tubi. Harus rela mengakui bahwa nyatanya aku ini bukan sekedar bodoh tapi juga tak tau diri… kenapa demikian?? Karena secara tak sengaja aku menyakiti sesama kaum ku. Wanita. Wanita yang lemah hatinya, meski aku tau tak selemah diriku. Wanita yang lembut tuturnya yang jauh lebih sempurna dan punya segalanya di banding kan aku. Mungkin tak akan sesakit ini jika hanya sekali. 2 kali aku menjalin cinta yang kurasa ditolak oleh batinku sendiri. Cinta yang tlah melukai aku. Oh Tuhan,,, ampuni aku, untuk kali ini saja.
“ Fal….” Suara Iwang, sepupuku terkasih membuyarkan semua hening lamunan yang menari indah dalam angan-angan ku yang buta. Menyeretku kembali untuk menelusuri betapa kejamnya dunia ini terhadapku. Kenapa aku ini tidak hidup saja dalam dunia hayalan. “ Eit.,.. ko malah bengong sih Fal….” Hanya ku tolehkan kepalaku pertanda aku sudah kembali bereinkarnasi kea lam yang nyata. Tanpa ucap yang nyata. Hanya dengan diam kusambut Iwang untuk duduk disampingku. “ masih mikirin Sakti?” Deg ;…. Sakti.. hatiku masih selalu bergejolak ketika nama itu kembali terucap. Jiwaku masih merasa sejuk ketika aku mampu membayangkan bagaimana dulu kisahku dengan makhluk berlabel Sakti itu. 5 tahun yang indah. 5 tahun yang berkah. Benar-benar terjalani seperti yang ku mau meskipun tidak selalu seperti yang ku inginkan. Ku jalani dengan perjuangan tanpa mengabaikan aku dan dia telah merancang bahwa semua ini terlakoni karena ada sebuah siklus pengorbanan yang selalu indah. Semua ini pun menyadarkanku. Ternyata tak satupun mampu menyayangi aku seperti Sakti mengasihiku. Tak ada yang mampu mencintaiku seperti kalanya Sakti mengagumi kekuranganku. Tak satupun yang bias mengatakan bahwa aku ini salah melangkah. Hanya Sakti. Sakti yang harus kurelakan kembali menjadi penjaga Tuhan di surga. Meinggalkan hatiku yang kian rapuh. “ Fal…”
“ yah…”
“ kenapa sih???”
“ setidaknya bukan Sakti Wang…” Iwang mengerutkan dahinya..
“ trus??”
“ Q tahu, seberapapun aku memikirkan Sakti, tak mungkin q bias temukan kesempatan untuk memeluknya lagi. Seberapapun aku menangis,, semua takkan menjadikan kembali seperi semula. Bukan kah begitu..???”
“ trus siapa yang bikin kamu bengong gini…????”
“ Abbie….”
“heemmm…”
“ Iwang… Lupa??”
“ sory… sapa sih…”
‘huft…” aku beranjak dari kursiku, masalahnya pasti bakalan sulit banget mengembalikan memori otak Iwang kalo memang penyakit pikunnya udda kumat.
“ Faaaalll…..” Iwang memelas. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku tak tahu mau aku bawa kemana kaki yang masih belum kuat menopang ubuhku yang rentan ini. Pasca operasi itu menyisakan serpihan lelah yang menumpuk. Dan mulai sekarang aku baru sadar nyatanya aku harus bertahan hidup dengan 1 ginjal. Tuhan…. Ini tidak adil untukku.
Aku terpaku sendiri dalam duniaku. Masih dengan lamunan-lamunan kecilku. Masih dengan imajinasi-imajinasi konyol yang merambati saraf oakku. Menjadikanku semakin tak waras. Menjadikanku menembus batas-batas normal suatu hidup. Berlayar dalam angan yang tak tentu. Yang justru ini yang kelak akan membunuhku perlahan. Ku buka gadget kecikul. Mulai ku telusuri setiap sudut dunia maya ini. Melayang-layang dalam pikiranku sendiri. Menemukan orang-orang baru yang sama sekali tak kukenal. Sampai akhirnya aku membuka sebuah situs pertemanan paling marak di dunia. Ku temukan sebuah foto pujaan hatiku yang kini entah dimana. Sejuk mulai menyirami setiap relung jiwaku. Namun hanya sekejap. Hanya sesaat, semua hilang ketika aku melihat gambarnya yang begitu mesra dengan pujaan hatinya. Uft… salahkah aku mencintai dia yang telah berpunya??. Berdosakah aku yang mengharap lebih terhadap dia yang tak sendiri adanya. Kenapa harus fakta menyakitkan ini yang ku temui?. Hanya sebuah tangis yang meledak dalam bising sanubariku. Hanya kata-kata picik yang mungkin terlontar.. “ aku bahagia jika melihat kau bahagia.” Cih.. nyatanya itu kan kata-kata paling munafik yang ku akui. Abi yang dulu mengharap cintaku, nyatanya hanya pelarian belaka. Abbie yang dulu ku rasa tulus nyatanya tak lebih sebagai pembuat luka yang mulus. Tapi setidaknya, aku masih menyimpan rasa untuknya. Kututup note book ku. Ku rebahkan tubuh rentanku … ku tutup mataku. Berharap aku bisa bermimpi menemukan Abbie untuk memelukku sejenak.
“ Faleri??” ada seseorang yang menyentuh tanganku dalam separuh lelapku. Iwang. Hanya dia yang setia bersamaku sampai detik ini. Aku ingin membuka mataku. Tapi nyataku sedikitpun tak ada respon atas usahaku ini. “ ya dah bobo yah sayang, istirahat, andai kamu tahu berharganya dirimu untukku. Jangan menangis sayang, semua akan baik-baik saja. Faleri akan selalu tersenyum disini. Semua akan indah.” Ku dengar langkah kaki menjauhi ranjangku. Ada butir-butir kecil meleleh dari setiap sudut mataku yang terpejam. Ada yang mencintaiku seperti Sakti dulu menyayangiku, meski sekedar sepupu, nyatanya keberadaanku masihlah penting.
Q buka mataku. Pagi ini indah. Mentari telah menerobos jendela ku, mengusik tidurku. Teramat cantik. Aku beranjak dari ranjangku. Mencari siapapun yang bisa ku temui pagi ini. Nyatanya ku temukan bunda ku di ruang makan. Seorang diri. Ayahku mungkin sudah berangkat kerja. Kakak-kakakku juga pasti sudah beraktivitas di kantornya masing-masing. Iwang… agh dia pasti masih tidur. Dia paling jago tidur. Kaya kebo.
“ sudah bangun sayang..” bunda menyapaku dengan sepiring roti dan segelas susu…
“ ya Nda… kesiangan….” Bunda hanya nyengir kuda melihatku. “ Iwang masih tidur Nda???”
“ ga…. Udda mau berangkat tuh.. paling siap-siap dikamar.”
“ berangkat?? Kemana Nda..??”
“ kembali ke Bandung,…” tanpa banyak bicara aku meluncur ke kamar Iwang. Ku lihat dia sudah siap dengan segala prlengkapannya. Tinggal berangkat mungkin menunggu mobil yang dipakai mengantar ayah kerja.
“ mau kemana??” cecarku sebelum dia sempat berkata apa-apa.
“ Udda bangun Fal??”
“ kamu mau kemana??”
“ Fal.. aku mesti balik ke Bandung”
“ kenapa mesti dadakan gini..”
“ semalem aku mau pamit, tapi kamu uda tidur..” air mataku mulai menetes. Ga tahu kenapa. Aku serasa tak ingin jauh dari Iwang. “ Fal.. aku ga mungkin kan disini terus. Aku mesti kuliah. Kalo libur aku pasti kesini jenguk kamu.”
“ trus aku sama siapa Wang? Aku ga mau sendiri. Aku butuh kamu disini. “
“ ada ayah, bunda,, kakak kamu. Semua ada buat kamu Fal..”
“ aku mau kamu, mereka ga ngerti aku seperti kamu pahami aku.” Aku terdiam, Iwang mendekat, memelukku.
“ kamu ga boleh sedih ya Fal, ga boleh, aku sama sekali ga pengen liat kamu nangis. Lupakan Abbie. Kamu sudah bisa melupakan Sakti, kamu juga pasti bisa lalui semua ini tanpa Abbie. Kamu pasti bisa. Dengan ataupun tanpa aku disini.”
“ Wang…”
“ hey… kenapa jadi mellow gini, toh juga ga pisah selamanya kan…kamu cantik Fal. Kamu bias dapetin sapapun yang kamu mau. “
“ jangan tinggalin aku ya Wang??”
“ aku ga mungkin nemenin kamu selamanya, tapi meski ga ada aku, pasti Tuhan akan ngirim penggantinya buat kamu. Seperti aku yang menggantikan Sakti, meski tidak sebagai kekasihmu.” Iwang mencium keningku. aku layangkan pelukku terhadapnya. ingin pelukan ini tak terlepas.
" wang..mau janji??" Iwang hanya mengusap pipiku yang basah dengan anggukan ringan kepala nya..
" janji???"
" iya Falleri..!!! apa??"
" Ga boleh lupain aku.. ga boleh berubah..ga boleh ninggalin aku.. harus balik.."
" hahhahahah...ini sih bukan 1 Fal.... ! truk.."
" iwaaaang...janji!!" aku memasang tampang memelas terhadapnya.
" ya aku janji.."
" janji apa??"
" lah... ya yg td.."
" apa??"
" hem...apa ya...yg tadi qm sebutin..." iwang menggaruk-garuk kepalanya..menandakan dia sedang bingung.
" dasar..." q tunjukkan tampang sewot ku..
" ya deh... ga lupa kecuali emang pikun..ga ga bkal berubah..cz aku bukan supermen... ga ninggalin kamu kecuali aku mati..trus..balik ntar kalo inged...hheheh"
" iihh..."
" aku akan selalu sayang kmu fal..selamanya..janji..."sekali lagi ku peluk dia..erat.sangan erat..
2 tahun kemudian
aku sudah mampu berdiri dalam pikiran dinginku. mampu lagi bertemu orang-orang yang telah menyakitiku. mampu menatap mata mereka satu persatu untuk menunjukkan bahwa aku tidak kalah. bahwa aku tidak lemah. bahwa aku tidak rapuh. aku terus melaju. memacu setiap adrenalin jiwaku. aku tetap maju. ada mama di sampingku. menemaniku setiap aku ragu. ada Tuhan di hatiku. yang menyayangiku lebih..lebih..lebih... hanya saja tak ku temukan Iwang.. tak ku jumpai dalam season hidup ku kali ini. dia jauh..dan semakin menjauh kala aku benar-benar butuh. dimana iwang??....tak henti rasanya aku menanyakan ini. dimana?? dimana??dimana?? adakah yang tau??
semua hari ku terlalui tanpa siapapun yang istimewa di hatiku...tapi aku tau...aku selalu bisa..bisa bertahan dalam hidup yang memang kupertahankan untuk kebahagiaanku..
aku bisa...
aku bisa Tuhan..
aku bisa...
" Fal..." semua pudar oleh jeritan lantang mama...
" apa sih ma.. pagi-pagi kok uda kaya tarzan.."
" Fal.."
" ya mama... ada apa?/"
" Iwang Fal..."
" ada Iwang Ma..dimana?.." aku bergegas keluar..berlari ingin menyambut iwang.."maa....iWang mana?"
" di rumah sakit Fal..."
" Iwang knapa ma?? iwang kenapa??" segala tanya menumpuk di hatiku. Iwang kenapa?? tak apa-apakah dia?? aku bergegas..berlari memacu kencang mobilku..ku hentikan tepat di depan rumah sakit. q telusuri koridor-koridor sepi ini. bau obat menyengat hidungku. merangsang mual di perutku. tapi tak ku hirau. aku ingi tau iwang. aku ingin menatap matanya. aku ingin meyakinkan hatiku bahwa dia tak apa-apa.. q liat sebujur tubuh lemah tak berdaya di atas ranjang kuat itu. begitu kurus.. pipinya pun teramat tirus.bagai seorang yang tak terurus.. inikah?? q dekati sesosok yang selalu jadi semangat hidupku. matanya terpejam..namun kurasa kan dia hendak membuka kelopak matanya. iwang tersenyum manis saat melihatku. meraba tangan ku. bibirnya lirih berucap.. sampai telinga ini terasa tak mendengar. tapi aku tahu. dia mengucap " aku akan selalu mencintaimu".. matanya menutup kembali..rapat... kali ini tak terbuka.. nafasnya memburu.. habis sudah.. hilang..denyut jantungnya terhenti..Tuhaaaaaaaaaaaaaan... serasa ada gumpalan darah yang membujal di otak ku. ini kenapa?kenapa?..saat segala pertanyaan ini memenuhi otakku..kutemukan secarik kertas berisi coretan tangan iwang..
ada cinta dalam setiap mata yg indah. tersembunyi di balik senyum yang terlara. selalu indah dalam cinta yg pernah terdusta. sedang ada seorang kumbang menanti. menjalari segala kasih yg terberi. rela korbankan hati yg mati. rela berikan jiwa yg tersisa.dewi..ada kasih disini..tengoklah...sejenak rasakan aku..rasakan hadirku..dewi..ada cinta disini..sambutlah...terimalah..sebelum mati dan musnah...dewi..ada cinta disini..dalam setia pandang mu..dewi..aku akan tetap menanti..sampai akhir aku mati...jagalah ini... aku akan kembali...kembali memelukku...disini ada aku....
ada aku...
ada kamu...
Senin, 16 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar